Dirjen ESDM Marah: RKAB Tambang Buruk Karena Pegawai Perusahaan Malas

Kemarahan Dirjen ESDM Mineral dan Batubara (Minerba), Ridwan Djamaluddin, baru-baru ini mencuat. Penyebabnya adalah kualitas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Tambang yang buruk. Ia bahkan secara blak-blakan menyebut pegawai perusahaan malas bekerja. Situasi ini menunjukkan adanya masalah serius dalam penyusunan dokumen penting tersebut.

Ridwan Djamaluddin menyoroti kurangnya profesionalisme. Banyak pegawai perusahaan tambang tidak memahami esensi RKAB. Mereka cenderung asal-asalan dalam menyusunnya. Akibatnya, dokumen yang diajukan sering tidak lengkap dan tidak akurat. Ini menghambat proses persetujuan oleh Kementerian ESDM.

Proses persetujuan RKAB yang lambat merugikan semua pihak. Negara kehilangan potensi penerimaan dari sektor pertambangan. Perusahaan juga terhambat operasionalnya, yang berdampak pada investasi. Keterlambatan ini menciptakan ketidakpastian iklim usaha di sektor strategis ini.

Salah satu penyebab utama buruknya RKAB adalah data yang tidak valid. Banyak dokumen diajukan tanpa studi kelayakan yang memadai. Proyeksi produksi yang tidak realistis dan estimasi biaya yang tidak akurat sering ditemukan. Hal ini memaksa tim verifikator bekerja ekstra keras untuk koreksi.

Dirjen ESDM menekankan perlunya perbaikan mendasar. Pegawai perusahaan harus meningkatkan kompetensi mereka. Mereka harus memahami regulasi pertambangan secara mendalam. Ini akan memastikan RKAB disusun sesuai standar dan mempercepat persetujuan.

Pemerintah sendiri telah berupaya meningkatkan efisiensi. Sistem digitalisasi dalam pengajuan RKAB terus dikembangkan. Tujuannya untuk mempermudah dan mempercepat alur administrasi. Namun, sistem ini tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan dan komitmen dari perusahaan.

Kritik tajam dari Dirjen ESDM ini harus menjadi alarm. Perusahaan tambang perlu segera berbenah dan menginvestasikan sumber daya pada tim yang berkualitas. Profesionalisme adalah kunci untuk memastikan operasional yang lancar. Ini juga demi kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.

Pentingnya RKAB Tambang tidak bisa dianggap enteng. Dokumen ini adalah peta jalan bagi kegiatan operasional selama setahun. Ia mencakup rencana produksi, alokasi anggaran, dan aspek lingkungan. RKAB yang buruk bisa menyebabkan masalah operasional dan hukum.

Transparansi dan akuntabilitas dalam penyusunan RKAB juga harus ditingkatkan. Semua pemangku kepentingan harus bersinergi. Ini memastikan industri pertambangan beroperasi secara efisien dan bertanggung jawab. Keberlanjutan lingkungan dan sosial juga harus menjadi prioritas utama.