Strategi utama yang dijalankan oleh perusahaan yang bertanggung jawab adalah berkomitmen untuk jaga pakan alami bagi berbagai spesies satwa liar yang terdampak. Banyak orang awam mengira bahwa reklamasi hanya sekadar menghijaukan kembali lahan yang telah digali, namun esensi sebenarnya jauh lebih dalam dari itu. Sejak tahap awal pembukaan lahan, tim ahli botani dan ekologi melakukan pendataan terhadap jenis-jenis pohon “ficus” atau buah-buahan hutan lainnya yang menjadi sumber makanan utama bagi primata, burung, dan mamalia kecil. Tanpa jaminan ketersediaan nutrisi dari alam, satwa akan terpaksa keluar dari habitatnya dan berisiko masuk ke area pemukiman atau bahkan area kerja yang berbahaya.
Keberadaan sumber pangan ini harus tetap tersedia secara melimpah di dalam satwa koridor maupun area penyangga (buffer zone). Perusahaan sering kali membangun persemaian bibit khusus yang berfokus pada tanaman endemik penghasil buah. Langkah ini memastikan bahwa saat proses revegetasi dilakukan, tanaman yang dipilih bukan hanya yang cepat tumbuh, tetapi yang memiliki nilai manfaat biologis tinggi bagi rantai makanan. Dengan menyediakan “restoran alami” yang tersebar secara meron di berbagai titik, tekanan terhadap populasi satwa liar dapat diminimalisir, sehingga mereka tidak perlu berkompetisi secara ekstrem untuk bertahan hidup di tengah perubahan lingkungan.
Pengelolaan lingkungan di dalam hutan yang masuk dalam wilayah kerja perusahaan memerlukan pengawasan yang sangat ketat. Di area ini, penebangan pohon-pohon pakan dilarang keras, bahkan jika pohon tersebut berada di jalur yang potensial untuk infrastruktur tambahan. Tim lingkungan akan mencari rute alternatif guna menyelamatkan tegakan pohon yang menjadi tumpuan hidup koloni monyet atau kelompok burung rangkong. Kebijakan ini membuktikan bahwa industri pertambangan modern tidak lagi hanya fokus pada angka produksi, tetapi juga pada etika konservasi yang memandang setiap pohon sebagai penyambung nyawa bagi makhluk hidup lainnya.
Setiap jengkal konsesi yang dimiliki perusahaan harus dipandang sebagai titipan alam yang harus dikembalikan dalam kondisi terbaik. Selain menjaga pohon yang sudah ada, perusahaan juga melakukan pengayaan tanaman (enrichment planting) di area-area yang mulai gersang. Hal ini bertujuan untuk menciptakan diversitas jenis pakan yang stabil sepanjang musim, sehingga satwa tidak mengalami kekurangan nutrisi saat musim kemarau panjang tiba. Sinergi antara operasional tambang dan pemeliharaan habitat ini menciptakan sebuah model pembangunan yang harmonis, di mana kemajuan ekonomi nasional didukung oleh kelestarian keanekaragaman hayati yang tetap terjaga dengan baik.